Tuesday, September 23, 2014

ISLAM SAMPAI KE NUSANTARA KETIKA RASULULLAH MASIH HIDUP



ISLAM masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.


Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.


Temuan G. R Tibbets





Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarawan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.


“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.


Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).


Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.

Pembalseman Firaun Ramses II Menggunakan Kapur Barus dari Nusantara


Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.


Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.


Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.


Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!




Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.



Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.


Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.



Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya).



Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz/eramuslim)


Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.


Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).


Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).


Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.


Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.


Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.


Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.









Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.


Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).


Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.


Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.



Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.


Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. a.


Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.


“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu,” ujar Mansyur yakin.


Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).


Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.


Gujarat Sekadar Tempat Singgah


Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatra (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina.

Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.


Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Bandar Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.

Thursday, September 18, 2014

TUNKU ANUM BERKORBAN DEMI KEDAH



Menurut sejarah (berdasarkan artikel dari Wadiasofi Jaafar), Tunku Anum atau nama penuhnya Tunku Anum bin Tunku Abdul Rahman adalah putera tunggal hasil perkongsian hidup di antara Tunku Rahmah dan Tunku Abdul Rahman. Bondanya iaitu Tunku Rahmah adalah puteri sulung kepada Sultan Muhammad Jiwa yang ke2 iaitu Sultan Kedah yang ke- 19 iaitu di antara tahun 1710-1778. Manakala ayahandanya Tunku Abdul Rahman adalah bekas Ketua di Wilayah Chenak, Thailand.

Nama Tunku Anum mula popular apabila beliau dilantik sebagai ketua penghantar Bunga Emas kepada Kerajaan Thai oleh Sultan Ahmad Tajuddin Halim Shah yang Ke-2 dan Tunku Dhiauddin yang memerintah Kayang (Perlis). Peristiwa ini berlaku pada bulan Ogos 1809. Sesuai dengan tugasnya seorang diplomat yang berurusan dengan Kerajaan Thai, Tunku Anum dikurniakan gelaran “Tunku Paduka Raja Jambangan”. Pada zaman itu,seseorang yang dilantik menjadi penghantar bunga emas amat disanjungi oleh rakyat Kedah kerana tugas tersebut amat berbahaya kerana terpaksa meredah hutan belantara, meredah gunung dan mengambil masa berhari-hari untuk sampai Ligor mahupun Bangkok.

Apabila Sultan Sultan Ahmad Tajuddin Halim Shah II menolak permohonan putera (Phya Sina Nunchit) kepada Gabenor Ligor untuk mendapatkan beras bagi tujuan Perang Thai-Burma dengan alasan padi tidak menjadi , perang pun meletus dan Thai menguasai Kedah. Pelbagai ikhtiar dilakukan oleh pembesar dan rakyat negeri Kedah untuk membebaskan Kedah tetapi semuanya gagal.

Kemudiannya, muncullah Tunku Anum yang kemudiannya dipertanggungjawabkan untuk menjaga keamanan Negeri Kedah. Tunku Anum tahu baginda bukan sahaja menghadapi ancaman dari luaran iaitu Thai (Ligor dan Bangkok) serta Inggeris. Tetapi juga ancaman dalaman termasuklah ancaman dari sepupu sendiri serta beberapa musuh dalam selimut. Baginda seterusnya mengatur strategi baru menentang Thai, dengan tunduk dan kononnya menjalinkan persahabatan baik kepada Putera Ligor (Phya Sina Nunchit) iaitu juga seorang wakil pemerintah Thai diKedah dan menawarkan diri untuk berkhidmat kepada Gabenor Ligor.

Walaupun pada awalnya Tunku Anum dianggap lemah oleh rakyat Kedah, tetapi tindakannya adalah rancangan bijak untuk menyelamatkan Kedah daripada terus dijajah oleh Thai. Beliau besedia untuk menghantar bunga emas sebagai ufti untuk pemulaan perdamaian, akhirnya dengan kebijaksanaan akal, budi bicara dan keperibadian Tunku Anum yang menambat hati, Gabenor Ligor melalui perkenan Raja Thai memulangkan Kedah semula kepada pemerintahnya dan berjanji tidak mengganggu lagi.

Semasa memperolehi kepercayaan dari Phya Sina Nunchit, Tunku Anom juga secara senyap-senyap melatih pejuang-pejuang Kedah di Gua Kerbau, Bukit Keplu dalam kawasan Kodiang. Semasa meninggalkan Kedah untuk berkhidmat di istana Ligor, beliau meninggalkan pejuang-pejuang Kedah dan menyuruh mereka bersedia sebilang masa untuk menyerang Askar Thai di Kedah. Dengan berbekalkan surat usul dari Putera Ligor, Tunku Anum menunjukkan diri beliau di Istana Ligor sebagai seorang penjawat yang setia dan berkemahiran tinggi dalam hubungan pentadbiran dan diplomatik dan akhirnya mendapat kepercayaan dari Gabenor . Dalam masa yang sama beliau mengkaji kekuatan dan kebolehan Angkatan Tentera Ligor dan hubungan Ligor dengan Bangkok.

Semasa beliau di Ligor, sebagaimana dirancangkan. Pejuang-pejuang Kedah telah menyerang markas Thai di Alor Ganu, kawasan Anak Bukit di Alor Setar. Phya Sina Nunchit selaku pemerintah Kedah yang menghadapi kesukaran menghadapi pemberontakan Kedah telah mengirim surat kepada ayahanda beliau iaitu Gabenor Ligor memohon bantuan untuk memusnahkan pemberontakan. Bantuan diberikan kepada puteranya, Gabenor Ligor telah menawarkan sebagai wakil Ligor di Kedah dengan harapan supaya dapat mendamaikan Kedah.

Namun, Tunku Anum telah menolak tawaran tersebut kerana beliau sedar jika beliau menerimanya, Kedah kekal dibawah kawalan terus Thai. Pemberontakan Kedah berterusan, serangan gerila disana sini menyebabkan Thai kepayahan. Ligor memohon pertolongan sekali lagi kerana beban kos peperangan, nyawa askar terkorban kerana serangan dan wabak penyakit dipenenmpatan askar Thai, akhirnya Ligor mengalah dan memberikan kebebasan kepada Kedah mengikut terma dan syarat yang diberikan oleh Tunku Anum secara halus.

Tunku Anom pulang ke Kedah sebagai wira diatas keberanian dan kebijaksanaan beliau. Sultan Kedah dinaikkan keatas takhta semula. Sebagai membalas jasa, Tnku Anom dianugerahkan sebanyak 24 mukim didalam negeri yang dikenali Kubang Pasu. Beliau menjadi pemerintah Kubang Pasu dan menamakan wilayahnya sebagai Negeri Kubang Pasu Daru Qiyam dan Pulau Pisang menjadi pusat pentadbiran.

Semasa pemerintahan beliau, Pulau Pisang membangun dan berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan penanaman padi. Malangnya, amat sedikit kajian mengenai Pulau Pisang di Jitra ini. Malah ada dninyatakan Pulau Pisang ini menjadi tempat perusahaan tekstil yang dikenali sebagai Pulau Kain. Tetapi tiada kesan yang dapat dijumpai.

Walaupun makam Tunku Anum dipelihara, tetapi Kampong Pulau Pisang tidak pula diberi penghormatan oleh Kerajaan Negeri sebagai mengingati bahawa Pulau Pisang dan Kubang Pasu ini dahulu adalah salah sebuah negeri yang mempunai rajanya sendiri didalam negeri Kedah. Tiada papan tanda didirikan untuk menyatakan sedemikian.

Tunku Anum telah memerintah Kubang Pasu selama 17 tahun dan mangkat pada tahun 1853 dan dimakamkan disana. Dikatakan, antara punca kemangkatan beliau adalahkerana terlalu sedih diatas kematian puteranya yg juga bakal pengganti beliau.

Diatas kemangkatan beliau, cucundanya iaitu Tunku Ishak telah dijadikan sebagai pemerintah baru Kubang Pasu. Malangnya, Tunku Ishak seorang yang tidak bertimbang rasa dan enggan mendengar kata-kata para penasihatnya. Sebagai bantahan rakyat yang memuncak, Tunku Ishak akhirnya dipaksa memulangkan seluruh wilayah Kubang Pasu kepada Sultan Kedah iaitu Sultan Ahmad Tajuddin Mukarram Shah III, Sultan Kedah ke 23.

KOTA KUALA KEDAH




Kota Kuala Kedah terletak di muara Sungai Kedah kira-kira 10km dari bandaraya Alor Setar. Berbentuk segi empat, ia berada di utara tebing sungai Kedah, di mana tembok sebelah barat mengadap Selat Melaka, selatan tembok mengadap sungai mengahala ke Pekan Kuala Kedah, utara tembok mengadap kawasan paya.

Pintu Masuk Kota

Manakala timur tembok mengadap perkampungan nelayan dan sawah padi. Kawasan tembok yang mengadap daratan dikelilingi pula dengan parit yang dikenali dengan Alor Melaka. Ketika berfungsi sebagai markas ketenteraan, dibina istana raja, rumah pengawal, kantin, meriam dan pondok-pondok atau khemah untuk askar. Pintu utama pula mengadap sebelah timur Alor melaka. Setiap penjuru kota ini dikelilingi dengan meriam-meriam kecuali di tembok yang menghadap paya.

Pintu-pintu di sekeliling kota

Ironinya, kota yang menjadi saksi kepada perjuangan orang melayu dalam memerdekakan negeri Kedah bermula sebagai pertahanan hadapan bangsa penjajah terawal di tanah melayu iaitu Portugis. Nama asal kota tersebut ialah Kota Kuala Bahang dan diasaskan oleh Sultan Sulaiman Syah (1602-1619) dengan bantuan Portugis. Dari segi bentuk yang bersegi-empat menunjukkan kota ini pada awalnya dibina berfungsi lebih sebagai kilang atau gudang untuk tujuan perdagangan berbanding sebagai kota pertahanan tentera yang digunakan oleh pihak Portugis sendiri. Ia juga dibina agar tidak mudah terbakar. Malangnya, apabila ia dilihat sebagai kota pertahanan Portugis, ia juga menjadi sasaran utama musuh Portugis ketika itu, Acheh. Pada tahun 1619, Sultan Mahkota Alam dari Acheh telah menyerang kota tersebut dan menghalau Potugis dari situ. Mahkota Alam juga telah menakluk seluruh negeri, menawan 7000 rakyat termasuk Sultan Kedah sendiri dan membawa pulang mereka ke Acheh (rujuk kisah Puteri Lindungan Bulan).

Pada tahun 1650, kerajaan Kedah telah membeli 30 pucuk meriam dari Portugis untuk menguatkan lagi benteng pertahanan kota ini. Ia ternyata berhasil pada kurun berikutnya ketika perang saudara antara Sultan Muhammad Jiwa dan adiknya yang berhasrat untuk merampas kuasa iaitu pada tahun 1724. Sultan dibantu oleh Pahlawan Bugis iaitu Daeng Parani yang berkekuatan 62 buah perahu perang dari Riau dan Selangor manakala adik sultan dibantu oleh Raja Kechil dan pengikutnya dari Minangkabau untuk menghalau Bugis dari Kedah.

Raja Kechil berjaya menawan Kota Kuala Kedah tetapi bantuan yang tiba dari abang Daeng Perani, iaitu Daeng Merewah berjaya menghalau Raja Kechil dan pengikutnya keluar dari Kedah dan kembali ke Siak. Perang tersebut mengambil masa selama 2 tahun dan mengakibatkan kemusnahan negeri Kedah.




Meriam Badak Berendam,

terletak di celah runtuhan kota dan berada di bawah aras laut.
Juga dipercayai kononnya berpenunggu di mana setakat ini ia tidak dapat diubah ke tempat lain..
Wallahualam



 
Dalam tahun 1771, orang-orang Bugis dibawah Yamtuan Muda Riau (Raja Haji Syahid Teluk Ketapang) sekali lagi memainkan peranan dalam tampuk pemerintahan negeri Kedah apabila mereka memihak kepada kumpulan pemberontak untuk menggulingkan sultan. Mereka berjaya menawan Kota Kuala Kedah dan merampas 300 pucuk meriam pelbagai saiz dalam serangan tersebut. Setelah itu, mereka pulang ke Riau. Bagaimanapun, Sultan berjaya merampas kembali Kota tersebut dengan bantuan pedagang Inggeris, Kapten Francis Light. Kapten Light berjanji akan menggunakan Kota tersebut untuk melindungi negeri Kedah dari serangan musuh, terutamanya THAI. Bagaimanapun janji tersebut tidak pernah ditepati di mana mereka pula yang bersekutu dengan Thai.

Deretan meriam yang masih ‘setia’ mengawal kota

Pada tahun 1771, Sultan Abdullah Mukaram Shah bercadang untuk menguatkan lagi kota ini dengan membeli meriam-meriam yang lebih besar seperti yang digunakan oleh musuh-musuhnya, Thai dan Bugis. Dinding kota diperkuatkan dengan batu-bata yang lebih kukuh. Ciri-ciri yang lebih moden seperti lubang untuk menempatkan senapang dan meriam juga dibina pada kota ini. Meriam-meriam yang lebih besar dibeli dari Acheh, Minangkabau dan Brunei. Pembinaan siap sepenuhnya pada tahun 1780.

Angkatan Thai

Ancaman pertama dari Thai menjelma pada petang Ahad 12 November 1821 bilamana satu angkatan perang dari Thai yang tidak diketahui tujuannya belayar ke Kuala Kedah. Mereka disambut dengan meriah oleh Bendahara Dato' Paduka Maharaja Sura. Semasa Panglima Thai, iaitu Raja Ligor Phya Buri Sakmuton dibawa melawat sekitar Kota Kuala Kedah beliau secara tiba-tiba mengarahkan askarnya menyerang para pengawal di dalam kota tersebut. Maka berlakulah pertempuran hebat di dalam kota itu. Akhirnya angkatan Thai berjaya menawan kota tersebut. Angkatan perang Kedah bersama sultan terpaksa berundur dan bertahan di Pulau Pinang. Di sini, mereka merancang strategi untuk merampas kembali negeri Kedah dari Thai.

Bersedia membedil musuh yang datang dari arah laut

Pada tahun 1831 putera sultan sendiri, Tunky Kudin telah mengetuai 3000 angkatan perang orang Melayu dari Prai telah menyerang Thai di Kedah dan menghalau mereka jauh hingga ke sempadan Thai. Kerajaan Thai dan British telah mengisytiharkan orang-orang melayu ini sebagai perompak, lanun dan pengganas. Kemenangan angkatan Kedah tersebut tidak lama di mana mereka kembali diasak Thai dan terpaksa berundur dan bertahan di kota Kuala-Kedah. Kapal-kapal perang British pula mengepung sepanjang persisiran pantai Kedah manakala tentera Thai menyerang dari darat. Kekebalan benteng Kota Kuala-Kedah menyebabkan pihak Thai terpaksa membina menara tinggi untuk menembak orang melayu di dalam kota tersebut. Setelah bertahan selama 3 bulan dan bertempur menentang 7500 askar dan 3000 gajah dari Thai, Kota Kuala-Kedah akhirnya jatuh ke tangan Thai. Tunku Kudin sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut dan kepalanya telah dihantar ke Bangkok.

Pada tahun 1838, sekali lagi angkatan perang Kedah diketuai oleh seorang lagi kerabat sultan, Tunku Mohammad Saad yang berkekuatan 10,000 askar dan 50 perahu perang dilengkapi meriam ringan telah mengusir Thai keluar dari Kedah melepasi Singora (Songkhla). Mereka juga berjaya membebaskan Patani dari naungan Thai buat seketika. Mereka bertahan di Songkhla sementara menunggu musim monsun tiba di mana bantuan askar melayu dari negeri2 sekitar dijangka tiba. Orang Eropah yang berkedudukan tinggi (gentry) di Pulau Pinang menolong baginda dengan menyediakan senjata dan bekalan. Tetapi tidak lama kemudian Kerajaan Negeri Selat memberi bantuan kepada Thai. Angkatan Tunku Muhammad sekali lagi terpaksa berundur dan bertahan di Kota Kuala-Kedah buat kali terakhir.

Peluru Meriam yang ditemui sekitar Kota

Bantuan dari Bangkok tiba bersama 15000 tentera dilengkapi senjata yang lebih moden, meriam dan gajah menyerang kota dari arah darat. Dari sebelah laut, kapal perang British HMS Hyacinth yang berkekuatan 18 laras meriam mengepung dari laut. Kapal tersebut terpaksa berlabuh jauh dari pantai untuk mengelakkan bedilan meriam dari dalam kota kuala kedah. Kapal tersebut turut diiringi oleh 3 buah lagi kapal perang yang lebih kecil iaitu HMS Emerald, HMS Pearl dan HMS Diamond.

Pada 19 Mac 1839 pekan Kuala-Kedah dikuasai sepenuhnya oleh askar Thai dan penembak hendap mereka ditempatkan di setiap sudut pekan tersebut. Orang Melayu yang ada ketika itu semuanya dibunuh dengan kejam. Menyedari harapan untuk menang adalah tipis dan kota akan jatuh ke tangan Thai pada bila-bila masa saja, pada malam tersebut orang melayu dibantu oleh askar upahan Sepoi membuat serangan berani mati ke atas kedudukan Thai di pekan tersebut. 15 askar Sepoi melepaskan tembakan bantuan ke arah askar Thai. Sementara itu saki-baki orang melayu yang tinggal diarahkan menyelamatkan diri dengan berenang ke arah kapal-kapal Inggeris. Kapten dan para kelasi kapal2 tersebut yang terdiri kebanyakannya dari orang melayu Negeri-negeri Selat turut merasa simpati di atas apa yang terjadi dan terpaksa menyelamatkan orang melayu yang berenang ke kapal-kapal tersebut..

Angkatan Tunku Muhammad yang bertahan di dalam kota hanya tinggal 200 orang. Menyedari mereka dikepung dari setiap sudut dan kemungkinan untuk menang adalah tipis, orang Melayu ketika itu terpaksa berjuang habis-habisan. Pada Subuh 20 Mac 1839, Kota Kuala-Kedah berjaya ditawan sepenuhnya oleh Thai dan kesemua mereka yang mempertahankan kota tersebut turut terkorban. Mulai dari tarikh tersebut, bedilan dari meriam-meriam dari kota tersebut tidak lagi kedengaran sehinggalah ke hari ini.

Sultan Ahmad Tajuddin yang semakin tua masih tidak berputus asa untuk mendapatkan kembali negerinya. Setelah cara ketenteraan gagal, baginda mencuba pula cara berdiplomasi. Baginda telah menghantar putera bongsunya, Tunku Dai untuk mengadap King Rama III. Dalam pertemuan tersebut, Tunku Dai berjanji akan mengakui kedaulatan Thai dengan syarat Sultan Kedah dikembalikan takhtanya.

Setelah berperang selama hampir 21 tahun, Sultan Ahmad Tajuddin Halim Shah II dipulihkan takhtanya pada Jun 1842. Baginda telah kehilangan Perlis (diperintah rajanya sendiri) dan Satun (Setul) (dimasukkan ke dalam jajahan Thai) tetapi telah berjaya menyelamatkan negeri Kedah dari diperintah terus oleh Thai seperti yang terjadi ke atas Patani dan berjaya mengekalkan institusi raja melayu sehinggalah ke hari ini. Baginda mangkat pada 1 Januari 1845.

Bagi pihak British pula, inilah pengalaman pertama yang mereka rasai berperang dengan orang Melayu sehinggakan Kepten Sherard Osborn, Pegawai Tentera Laut British ketika perang Kedah-Thai 1838 telah membuat kenyataan berikut:
"Seperti anjing… pribumi (yakni org India) di sepanjang persisir pantai semenanjung India menjilat tangan yg mendera mereka;
Tetapi tidak bagi orang Kedah! dan kita orang Inggeris seharusnya menjadi yang pertama memuliakan bangsa yang tidak tunduk kepada kekejaman"


Peperangan antara Thai dan Kedah sangat sengit dan berat sebelah. Ini kerana Thai telah dibantu oleh Inggeris. Angkatan Tengku Kudin yang terkepung didalam Kota Kuala Kedah telah dikepung oleh 80 ribu Askar Thai. Angkatan bantuan yang belayar dari sungai Perai ke Kota Kuala Kedah telah dihalang dan dibedil oleh Tentera Laut Inggeris semasa dalam perjalanan. Wan Muhammad Ali(anak Datuk Seri Kerma Jaya)yang begitu berjaya dalam kempen menentang Thai dilaut telah diserang dan dikejar oleh kapal perang Inggeris. Ilmu pelayaran dan teknologi pembuatan kapal layar yang ada pada orang Melayu nyata berguna pada Angkatan Wan Muhammad Ali yang berjaya menghindari kapal perang Inggeris. Dengan jong yang lebih ringan dan laju angkatan tersebut berjaya menjarakkan diri dari Angkatan Laut Inggeris dan belayar bersembunyi sekitar perairan di Langkawi. Namun Inggeris yang tidak berpuas hati telah maju ke Pulau Langkawi dan menyerang kubu dan merampas meriam-meriam orang Langkawi. Wan Muhammad Ali terpaksa berundur ke Sumatera dan menetap disana.

Kempen Tunku Muhammad Saad dalam perang pembebasan Kedah memang tidak boleh di tinggalkan ceritanya.
Dikisahkan beliau telah pergi merantau hampir ke seluruh nusantara termasuk Sumatera dan Jawa bagi mencari orang-orang handal bagi membantu menghalau Thai dari bumi Kedah. Pada tahun 1828, Angkatan Tunku Mat Saad telah berjaya menawan kembali Kota Kuala Kedah. Pada Julai 1828, angkatan beliau telah berjaya mengundurkan Thai sehingga ke Padang Kecil (Haadyai). Di Haadyai, angkatan beliau yang terlalu cepat masuk ke Wilayah Thai telah bertembung dan bertempur dengan hebat dengan angkatan bantuan Thai dari Bangkok. Jumlah Angkatan Thai yang lebih ramai menyebabkan angkatan Tunku Mat Saad terpaksa berundur. Kisah ini berlaku sebelum kisah Tunku Kudin dan Wan Mat Ali seperti di ceritakan tadi.

Kempen Tunku Paduka Raja Jambangan atau dikenali Tunku Anum merupakan yang paling berjaya. Dengan helah dan tipu muslihatnyalah, Kedah dapat di bebaskan dari taklukan Thai. Baginda telah di anugerahkan wilayah Kubang Pasu sebagai negeri yang bebas dari Kedah oleh Sultan Ahmad Tajuddin Halim Shah II.

Antara Panglima yang terlibat dalam Perang Kedah - Thai

TUNKU KUDIN (di anggap sebagai lanun Melayu Kedah terkemuka oleh Inggeris.

TUNKU SULAIMAN (angkatan bantuan yang dibedil Inggeris dalam perjalanan ke Kuala Kedah dari Perai.

PANGLIMA MUHAMMAD TAIB Dato, Wan Muhammad Ali (anak Dato Kerma Jaya - Semasa peristiwa Mpembunuhan Mahsuri, beliau masih kecil dan berada di Pulau Pinang.

Tunku Muhammad Saad (membuktikan orang-orang Melayu Nusantara boleh bersatu menentang musuh)

Tunku Anum (Handal dalam persilatan dan bijak dalam tipu helah dan hubungan diplomatik. Membiarkan diri menjadi tawanan Gabenor Ligor (Nakhon Si Thammarat) untuk mengkaji kekuatan Angkatan Ligor yang merupakan penghasut utama kepada Raja Thai di Bangkok supaya menyerang Kedah.)
 

GUGURNYA SYUHADAH



MASA Tunku Muhamad Saad menyerang Thai di Kedah dan membebaskan negeri itu dari cengkaman mereka, Gabenor Legor dan Gabenor Senggora berada di Bangkok menghadiri upacara penghangusan jasad Bonda Rani ibu kepada Maharaja Rama III. Bila mereka diberitahu orang-orang Melayu telah menduduki semula negeri Kedah dan negeri-negeri Melayu di Selatan telah turut dibebaskan, mereka memohon bantuan dari Bangkok dan dari wilayah mereka sendiri seperti Legor, Senggora, Petalong dan juga dari Kelantan dan Petani.

Gabenor Legor menghantar utusannya menemui Inggeris di Singapura dan dua-dua pihak telah bersetuju akan saling bantu-membantu. Inggeris bersetuju mengepung Kedah dari laut dalam bulan Disember ketika angin ribut Timur Laut bertiup. Dalam bulan itu, Thai akan menyerang dari darat dengan lapan puluh ribu orang tenteranya.

Seperti yang dijanjikan, kapal Inggeris bernama “Hyacinth” tiba dan berlabuh pada 7 haribulan Disember 1838 dua ratus ela dari Kuala Sungai Kedah. Orang-orang kapal menanam batang-batang nibung dan batang-batang pinang menyekat mulut kuali kecuali bahagian kecilnya yang dibuka untuk perahu-perahu kecil berulang keluar masuk. Bahagian kecil itu dikawal rapi.

Angin Timur mula menghembus, tanah sawah mula merekah dan di Laut pula didatangi ribut. Tiap-tiap perahu yang keluar dan masuk dipereksa oleh anak-anak kapal “Hyacinth” dan senjata orang-orang Melayu di rampas. Orang-orang yang bersiap seperti hendak berperang akan dipaksa pulang kedaratan. Orang-orang dari luar tidak lagi di benar masuk ke Kedah. Orang-orang dari Langkawi, Pulau Pinang atau Setol yang datang ke Kedah akan diburu balik ke tempat asalnya.

Dalam bulan Disember anak Gabenor Legor yang menjadi Gabenor di Kedah Phya Thibet dikenali sebagai Phya Buri Saknuton dalam Sejarah Kedah mengepalai angkatan Thai dari Legor seramai sepuluh ribu orang bertindak membunuh laki-laki perempuan dan kanak-kanak serta membakar licin kampong rumah, pokok-pokok kayu dan tanaman orang dalam satu gerakan bumi hangus yang tidak ada taranya di tanah air kita. Rancangan Legor ialah hendak menghanguskan seluruh negeri dari Setol hingga ke Sungai Kedah.

Dato’ Muhamad Ali di Setol kaku tidak dapat bertindak dengan pantas kerana Thai masuk dengan mengejut dari daratan. Halangan yang diberi oleh Dato’ Muhamad Ali tidak berkesan langsung. Tentera-tentera Thai mempunyai senjata-senjata yang lebih moden dapat meredas dari sempadan menuju kekawasan Kedah dengan mudah dan cepat.

Orang-orang di Setol dan di Terang tidak dapat menentang angkatan Legor yang jauh lebih ramai berhijrah meninggalkan kampong halaman berperahu di pulau-pulau di perairan Burma terpisah dari saudara mara yang membuyung ke Semenanjung.

Angkatan Tunku Muhamad Saad yang sedang menduduki Senggora di serang dari belakang oleh satu ketumbukan tentera Legor yang lebih besar. Orang-orang Melayu yang di tawan kononnya diikat kemudian dilecek oleh gajah hingga menjadi “sambal”. Mengikut cerita dari orang-orang yang berjaya melepaskan diri ke Pulau Pinang, ramai orang-orang Melayu yang diikat kemudian disula dari bawah dengan pucuk nipah hidup yang menghulurkan taruk sejengkal demi sejengkal setiap hari menembusi isi perut orang yang malang itu. Sebelum mati, orang-orang ini menderita kepedihan yang amat perit. Masa inilah terdapat beribu-ribu manusia dari Petani, Setol dan Perlis berhijrah ke Selatan iaitu ke Perak dan ke Pulau Pinang, ke Kelantan dan Terengganu.

Sekurang-kurangnya kita mengetahui Panglima Busu dan Raja Usoh dari Setol selamat sampai di Selatan Kedah dan membuka kampong halaman disana. Lebih kurang tiga bulan lamanya mereka menderita dan mengalami pelbagai kesedihan di dalam perjalanan: Tangisan kanak-kanak yang menyusu di dada ibunya yang terbaring tidak bernyawa ; ibu dan ayah meratapi anak yang terpaksa dikuburkan didalam hutan dan siisteri meratapkan suami yang telah terbujur menjadi mayat.

“Nun di tengah tanah persawahan yang sudah menjadi arang dibakar oleh orang-orang Thai adalah beberapa kanak-kanak dan orang tua juga sedang menyungkili buah-buah padi di celah rekahan tanah yang tersebut untuk ditanak dengan randawan dari bahan-bahan yang boleh dimakan sebagai umbut dan daun-daun kayu serta ubi-ubi yang didapati didalam hutan.”

Kumpulan Raja Usoh membuka “Kampong Raja” di tebing Sungai Kerian dan kumpulan Panglima Busu dan Tok Pawang Sulaiman membuka “Kampong Bukit Tok Gula” di daerah Bandar Baharu. Tok Gula ialah gelaran kepada Panglima Busu yang pandai membuat gula kelapa. Banyak lagi kampong-kampong yang dibuka pada zaman ini oleh orang-orang berhijrah dari Setol, Petani dan lain-lain wilayah Thai melarikan diri ketempat yang aman.

Pemimpin-pemimpin Melayu di Senggora berundur ke Kota Bharu dan akhir-akhirnya telah berjaya melepaskan diri ke Seberang Perai. Perjuangan dari tahap ini telah lumpuh dan mereka mengharapkan ketumbuk-ketumbuk lain dari Setol, Perlis dan Langkawi menyelamatkan Negeri Kedah.

Diantara tujuh wilayah di Petani, hanya empat sahaja iaitu Nangcik, Raman, Yala dan Legih yang menyokong Tunku Muhamad Saad, sedang tiga lagi iaitu wilayah Petani, Jering dan Sai tidak dapat bertindak sedikit pun.

Angkatan Legor telah mara ke selatan melalui Padang Besar dan Padang Kecil terus masuk ke kawasan Perlis, dan Kedah setekah menduduki Trang dan Setol. Di Padang Kecil, sekarang dikenali sebagai Haad Yai, satu pertempuran besar telah berlaku dan mengakibatkan ramai tentera Melayu dan tentera Thai menjadi korban. Diantara yang syahid disini ialah Shaikh Samad Palembang.

Orang-orang Melayu di Kedah mengharapkan hujan dan ribut melemahkan semangat orang-orang Thai yang melakukan serangan-serangan hendap di waktu malam tetapi sebenarnya Thai hanya mengukur kekuatan orang-orang Melayu sebelum menyerang besar-besaran dalam bulan tiga nanti.

Thai menggantungkan buluh-buluh kentong dipinggang tiap-tiap orang tenteranya supaya boleh dibunyikan bagi mengenali rakan-rakan mereka dan juga sebagai mengelakkan diri dari mengantuk di tempat berkawal. Bunyinya di jauh-jauh malam amat lantang dan irama bambu sambut menyambut dari seorang tentera keseorang lain memecah monotoni malam hingga terbit fajar. Orang-orang Melayu di tembok=tembok kota tanah akan berteriak kepada rakan-rakannya,”Jaga,jaga!” Rakannya pula akan berteriak balas, “Jaga,jaga..!” Sehingga semua orang-orang Melayu berada didalam keadaan berjaga-jaga. Buat beberapa waktu bunyi kentong buluh, seruan “Jaga, jaga..!” dan tembakan meriam serta lela dan istinggar berkecamuk tidak tentu sasaran. Acapkali terdengar tentang tanduk kerbau dari kampong di pendalaman di tengah-tengah angin ribut yang menyapu pantai

Sedekahkanlah Al Fatihah kepada Pengarang ini (jika sudah meninggal dunia) kepada para pejuang Kedah yang terkorban dalam peperangan dan kekejaman SIam, kepada rakyat Kedah yang terkorban kerana kekejaman Siam, kepada kedua ibu bapa kita,kepada seluruh kaum uslimin dan Muslimat dan Mukminin serta Mukminat